saya dan kamu

Saya dan Kamu.
Pernah melewati ini semua. Menulis ini semua di lembaran yang sama.
Saya dan Kamu.
Pernah berjalan menyusuri ini semua. Beriringan. Bahkan mungkin, bergandengan.
Saya dan Kamu.
Pernah berdiri di bawah naungan langit yang sama. Memandang ke arah yang sama. Mengarah ke suatu tujuan yang sama.
Saya dan Kamu.
Sekarang sama-sama berdiri tak berarah. Memilih jalan yang membingungkan.

Bagaimana kalau Kamu coba buka lagi. Seperti apa yang saya lakukan.
Mungkin akan menyakitkan. Tapi bukan itu tujuannya.
Hanya sedikit mengenang. Atau bahkan mengingatkan.
Kalau di antara Saya dan Kamu pernah ada sesuatu.
Sesuatu yang masih ada hingga kini.

Jangan ditengok tengok lagi. Jangan dirasa rasa lagi. Jangan diraba raba lagi.
Semua itu hanya butuh KITA lalui.

Saya dan Kamu, bisakah?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

lembaran kosong di buku yang usang

Wanita itu terpaku sendiri. Tak sengaja tangannya menyentuh sebuah benda kecil berbentuk persegi. Ia kernyitkan dahi sejenak, berusaha mengenali benda apa yang ia pegang. Maklum, sampulnya tertutup debu tebal.
Ia hampir tercekat ketika membuka lembaran pertama. Ah! Kisah itu. Kisah yang sempat kubuang bahkan kukubur sangat dalam!
Ada rasa ingin membuangnya jauh (lagi). Tetapi, nyatanya bagian dari dalam dirinya berseru menyuruhnya untuk membuka lagi. Ia mencoba membuka dan membacanya.
Banyak kisah tertulis di sana. Bagaimana semua berawal, hidup, berkembang, atau bahkan-yang paling menyedihkan dan menyakitkan-bagaimana semua itu mati!
Tak ada air mata lagi yang tampak di bibir pelupuk matanya. Ketika sampai pada lembaran terakhir yang terisi, entah mengapa gadis itu tersenyum kecil. Padahal tulisan disana aku tahu pasti adalah bagian yang paling menyakitkan.
Ah. Masih ada lembaran kosong! Masih bisa kan aku tulis disana? Bagaimana ini bermula (lagi)? Bagaimana ini tumbuh (lagi)? Masihkah kau izinkan aku menulis lagi?
Aku tersenyum dan mengangguk dari kejauhan.
Memang sempat kusangkal berjuta kali tentang membuka lembar lama. Tapi hey, nyatanya masih ada lembar kosong. Tidak ada yang salah dengan mencoba mengisi lembaran kosong itu. Percayalah, Tuhan saja begitu baik memberi kesempatan kedua. Kenapa manusia tidak?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Agustus: tidak ada hujan yang tidak dibagi di bulan Juli

hujan itu datang lagi. tetapi di bulan yang lain.
tetapi anehnya, hujan itu selalu membawaku ke bulan itu. Juli.
hujan itu menampilkan slide yang sama. piket masak, program beraneka ragam, rapat tiap malam, evaluasi ini itu, bermain kartu sampai bosan, terduduk di ruang makan setiap pagi, curhat ini-itu, liburan bersama, menonton acara tv bersama, makan dari alas yang sama, menikmati hujan bersama.
tidak ada hujan yang tidak berhasil mengingatkanku lagi. karena mungkin terlalu banyak hujan yang terbagi.
hujan ini selalu membawaku ke tempat itu. tempat yang dulu sempat kukutuki. tetapi sekarang kusyukuri.
berawal dari rasa takut, khawatir, kesal, rindu, bosan, ingin pulang, tidak ingin pulang, sampai ingin kembali mengulang.

hujan memang selalu bisa. tidak ada kenangan yang tidak bisa dihadirkan kembali oleh hujan.
mungkin ini saatnya aku berterimakasih kepada hujan. terimakasih sudah menemani kami selama Juli. karena hujan, kenangan itu kembali lagi dan lagi. bukan untuk ditangisi ya, kawan. tetapi hujan mungkin hanya ingin mengingatkan.



kita pernah berbagi sebulan bersama di sebuah tempat bernama Mekarsari. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Juli part 4: ketika orang asing itu ternobatkan sebagai keluarga

hujan seperti mengerti hari itu. atau mungkin malam itu. satu malam sebelum tenggatnya habis. ketika semua sibuk dengan urusan masing-masing. dan aku malah terduduk menikmati hujan.
hujan seperti marah malam itu. tidak berhenti turun. dan anehnya, terasa sepi sekali malam itu.
tidak ada yang dibagi. hanya saling beradu pandang sesekali.
dan entah mengapa, pagi cepat sekali datang.

kami berusaha lupa atau mungkin amnesia. kalau hari itu adalah hari terakhir di bulan Juli. sudah cukup Juli itu kita bagi. sudah cukup hujan itu mengiringi.
satu persatu berpamitan. seolah tak rela. kali ini air mata yang membanjiri. bukan lagi hujan.
satu persatu pergi. dan kesalnya, hujan datang lagi.
lalu angkutan itu datang. kami saling berpamitan.
lagi-lagi. air mata itu kembali membanjiri. padahal kami sama-sama tahu, masih ada hari lain untuk mengulang kebersamaan itu. tetapi, tidak ada kebersamaan yang sehangat ini.



rumah itu. orang-orang itu. rutinitas itu. anjing itu. hujan itu. keluarga itu. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Juli part 3: ketika tempat terasing itu mulai bersahabat

hujan itu seperti dikomando untuk terus menemani kami selama Juli. namun kini, lagu Hujan Jangan Marah yang sering kami dengarkan. berharap hujan memang tidak marah untuk membantu kami menyelesaikan ini semua.
hujan itu seperti mengerti. mereka tidak marah. datang sesekali. mengikuti jadwal kami. membiarkan program kami berjalan sebagaimana mestinya.
hujan itu seperti mengerti. mereka tidak marah. mereka tetap datang sesekali. mengingatkan kami akan kenangan kami masing-masing.
hujan itu seperti mengerti. mereka tidak marah. datang sesekali. mengalunkan melodi ketika kami bertemu jenuh.
hujan itu seperti mengerti. mereka tidak marah. datang sesekali. seperti menghibur kami yang mulai rindu rumah kami.
hujan itu seperti mengerti. mereka tidak marah. datang sesekali. mengusir bosan dan sepi dikala bumi sedang sepi.
hujan itu seperti mengerti. mereka tidak marah. datang sesekali. mengikuti mauku. untuk mengusir bintang malam itu.

hujan itu mengerti. sempat ia tidak datang. membiarkan kami untuk menikmati suatu malam di teras rumah. bergurau sesekali sambil mempersiapkan malam. malam yang cukup istimewa untukku.
pertama kalinya, kami duduk bersama di ruang tengah. dengan daun pisang panjang sebagai alas makan. lalu kami makan bersama yang walau menunya sama sama saja, tetapi terasa begitu istimewa.



hujan pasti mengerti. kalau aku mulai mensyukuri, hujan mengiringiku hingga kini. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Juli part 2: adaptasi menjadi seorang terasing

hujan. tak jauh berbeda. lagu itu lagi yang terdegar. Desember dari Efek Rumah Kaca. jika pemutar musik di ruang depan tidak dapat memenuhi mauku memutarnya, aku beralih untuk merebahkan badanku di kamar depan lalu menyesakkan kedua lubang telinga dengan alunan lagu itu.
entah mengapa. aku benci hujan.
aku ingat, ketika hujan beberapa minggu lalu. ketika kami mulai mengingat nama masing-masing. ketika kami memulai apa yang disebut dengan kerja sama. mengatur jadwal bersama untuk mengerjakan program-program, piket, sampai mempersiapkan makan.
aku ingat. ketika hujan beberapa minggu lalu, kami sedang terduduk rapi di ruang televisi, meneriaki grup sepakbola yang kami bela. terserah apa kata yang lain, kami tetap mengomentari sesuka kami.
aku ingat, ketika hujan beberapa minggu lalu, ketika kami mulai menghirup udara baru dan mulai terbiasa. ketika kami bertemu orang baru lagi dan lagi. ketika kami terbiasa menaiki mobil pick up ataupun berjalan kaki ke balai desa melewati tanjakan dan jalan tak layak.
aku ingat, ketika hujan datang beberapa minggu lalu, ketika aku mengalahkan egoku untuk tidur beralaskan kasur tipis, atau terkadang hanya karpet saja. ketika mulai terbiasa mencuci piring di kamar mandi. bahkan mencoba mencabuti bulu ayam. atau terkadang menghubungi ibu untuk bertanya resep memasak.
aku ingat. ketika hujan beberapa minggu lalu.



ketika aku mulai mengingat nama-nama mereka di luar kepala. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Juli part 1: asing bersama orang asing di tempat terasing

Hujan. Seperti kamu tahu, aku membenci hujan. Karena hujan selalu membawa kenangan.
Sekitar seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, atau mungkin sudah lebih dari sebulan lalu, saya sedang duduk membiarkan lagu Desember dari Efek Rumah Kaca mengalun mengiringi kenangan yang ikut terbawa bersama hujan.
Juli. Bulan yang sungguh menghantuiku, dulu. Sempat terbayang bagaimana kondisiku yang terperangkap selama sebulan dengan paksa bersama dengan orang asing di tempat terasing yang akupun tak tahu sedikitpun bayangannya.
Apa yang kuperbuat sebulan itu? Bagaimana berdaptasi? Mengapa aku bodoh memilih tempat terpisah dengan teman dekatku? Mengapa Tuhan juga terlalu jahat untuk membiarkanku mengarahkan kursor laptop memilih desa itu?
Saat perjalanan menuju tempat terasing itu pun, aku tetap mengutuki Tuhan, mengutuki diri sendiri, mengutuki nasib.
Sempat iri dengan status teman lain yang terbaca. Bagaimana mereka memiliki teman dekat di tempat sama sehingga dapat bertukar cerita. Sedangkan aku? Bungkam selama perjalanan, terduduk bersama teman yang masih asing hanya dengan sapaan basa basi yang aku akui milikku terdengar busuk.



Ah! Hujan itu malah datang, membuatku semakin merasa ingin menghilang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

surat cinta

entah kenapa, saya malah menulis ini. entah dari mana desakannya, entah mau kemana tujuannya.
terlalu banyak kisah yang ayah saya bagi. dari bagaimana beliau pertama memijakkan kaki, hingga bagaimana beliau mendaki.
mungkin bisa diibaratkan sebagai sebuah pendakian gunung. pendaki yang baik memulai pendakiannya dari kaki gunung. dari bawah. bersusah payah melewati hutan, jalanan tak layak, atau bahkan berjalan menghindari jurang.
lalu bagaimana kalau seorang pendaki tidak bisa sampai ke puncak? kecewa? pasti. bahkan kami yang mendoakan dari kaki gunung bisa merasakan, walau mungkin tidak sedalam yang dirasakan sang pendaki.
tetapi ada yang salah dengan itu? bila tidak bisa menggapai puncak?
apa salahnya dengan berpindah ke gunung lain? toh, sudah lebih dari separuh jalanan mendaki yang terlewati. sudah merasakan lelahnya mendaki, pegalnya kaki, atau mungkin luka tertusuk duri.
tidak ada salahnya dengan turun kembali, dan memulai ke gunung yang lain lagi.
putar kembali kemudinya. puncak itu memang tidak tergapai, tapi toh segudang pengalaman sudah ada di tangan.
simpanlah sebagai bekal menggapai puncak yang lain.
Tuhan pasti menyediakan satu puncak yang bisa digapai dan telah Ia sediakan untuk sang pendaki.
Tidak ada usaha yang sia-sia.
Tuhan menyediakan semua di tempat dan waktu yang indah. bahkan lebih indah dari yang pernah terbayangkan.
mungkin ayah lupa, tapi ada satu kalimat yang pernah beliau ucapkan dan selalu saya pegang hingga kini: "ini bukan tentang hasil, tetapi tentang proses"
bukan tentang merasakan tingginya puncak, tetapi bagaimana pendakian menuju ke sana. Tuhan menyimpan sejuta rencana. mungkin puncak yang ini anginnya terlalu kencang, mungkin puncak gunung sebelah pemandangannya lebih indah.
tetap semangat mendaki hingga ke puncak.
walau harus memulai lagi dari bawah.
aku terus dan selalu akan mendoakan. walau tidak membantu banyak.
:)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

kata-pun tak sanggup

saya butuh sekitar beberapa kali dua puluh empat jam untuk memulai menulis ini. entah mengapa, terasa susah sekali. padahal, terasa banyak menyesaki isi otak untuk ditumpahkan.
biasanya, kalau menceritakan kembali pengalaman yang saya alami terasa mudah untuk ditulis dalam lembaran kosong new post ini. tetapi entah mengapa kali ini terasa sulit sekali.
banyak sekali yang saya alami. banyak rasa yang tercampur. banyak kata yang saya rumuskan.
tetapi entah mengapa yang tertulis malah yang seperti ini.
aneh.
cerita yang ada dalam sebulan ke belakang banyak sekali. dari rasa takut, menyesal, khawatir, senang, sedih, labil, bosan, ingin pulang, sampai tidak ingin pulang.
siklus itu mengalir cepat hanya dalam waktu tiga puluh hari. tetapi tidak ada yang bisa saya tulis disini.


apa mungkin memang kata-kata tidak sanggup mengungkapkan semua yang kita bagi di Mekarsari?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

konspirasi

saya dan kamu. berada di dimensi yang sama. di ruangan yang sama. bahkan hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
saya dan kamu. hanya terdiam tanpa basa-basi. saling bertukar detak jantung yang tak terkendali. tanpa kata. bahkan tanpa suara.
saya dan kamu. sama sama tahu. rindu itu ada. malah mungkin tak terbendung hampir over limit.
saya dan kamu. tetap terdiam. bahkan bertukar pandangan pun tidak. sama sama terduduk mengarah ke sudut yang sama. sibuk masing-masing. atau mencoba terlihat sibuk?
saya dan kamu. sama sama tahu. banyak cerita yang ingin dibagi. tapi apa daya. ego itu membunuh rasa ingin tahu. karena ternyata saya tak ingin kamu tahu saya merindukanmu.
saya dan kamu. berbagi lebih dari enam puluh menit bersama. namun tak ada yang dibagi.
bahkan rindu itu pun tak sempat terbagi.
langit dan bumi seolah berkonspirasi. mungkin lebih baik memang tak ada kata yang kudengar ataupun kau dengar.
cukup detak nadi yang sanggup kudengar. atau bahkan senyum irit yang kau pasang.
langit dan bumi berkonspirasi. cukup itu saja yang mereka beri. agar rindu itu tetap tersisa.



dan tetap ada. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments