Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

cin(t)a

I'm going sick of it.
I love God, and of course, he loves God too.
God loves me, and of course, God loves him too.
I admit it, I love him, but it's going bad, because God is between us.
And you know why I said it's going bad?

Because we call 'God' in different ways.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Sang Pemimpi

Kebetulan kemarin saya sempat nonton Sang Pemimpi. Akhirnya, kesampaian juga buat nonton film ini.
After all, sih saya ga banyak komen tentang filmnya. Saya malah ga fokus tentang si Arai-sang pemimpi, tapi malah lebih ngena dengan adegan father-son nya Ikal dan bapak.
Film ini membuat saya terbuka dengan sosok seorang ayah. Kalo kata Ikal di film ini, ayah no.1 di dunia. Yes, he's my father.
I think, everyone will say that their father was the number one in this whole world. But seriously, I mean it.
Uhm, actually, I can't make a nice words, or something 'touchy' to describe this person in this post.
Setelah menonton adegan father-son tadi, saya hanya teringat sesuatu.
Saya masih ingat waktu saya bermimpi jadi penyanyi, ayah saya ada di samping saya, mendorong saya agar bisa bernyanyi di depan orang.
Waktu saya punya setumpuk cerita dan bermimpi menjadi penulis, ayah saya juga ada untuk mengkritik tulisan saya.
Waktu saya hobi memainkan piano, ayah saya juga sering mendorong saya agar bisa memainkan satu buah lagu saja untuknya.
Waktu saya ingin menjadi pengusaha kecil-kecilan, ayah saya juga ada untuk mengingatkan saya agar tetap ingat kuliah.
Bahkan ketika saya mulai menyusun resolusi awal tahun, dia ada untuk mengingatkan saya agar tetap konsisten.

Ya, saya memang sang pemimpi. Dan how lucky I am, to have a father like him. Who always support me to follow and catch my dreams. And whenever I fall, he always remind me to get up and try again to run from the start line.

P.S: untuk ayah saya yang bertanya kapan saya menceritakan beliau di blog saya. ;)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

God is a DIRECTOR


akhirnya, rasa penasaran saya terhapus setelah saya kesampaian menyaksikan CIN(T)A di blitzmegaplex. film ini berkisah tentang Cina, cowok 18 tahun, mahasiswa baru jurusan arsitek bertemu dengan Annisa, senior yang tugas akhirnya ditolak terus, dan ipk cuma 2,1. dari situ, mereka jadi deket, karena Cina membantu Anissa dalam mengerjakan tugas akhirnya.
sepanjang film, saya terkagum dengan dialog-dialognya. seperti dialog Cina yang memasukkan hukum Newton 1: kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran, dan dikoreksi sama Annisa, kalau hukum Newton 1 adalah suatu benda akan bergerak bila ada benda yang mendorongnya untuk bergerak.
ada juga ungkapan Cina yang agak nyentil generasi muda yang suka berkoar-koar mengkritisi pemerintah. 'kita diberi subsidi oleh pemerintah untuk belajar adalah untuk membantu pemerintah' yah kurang lebih gitu dialognya. agak nyindir kegiatan mahasiswa yang sukanya demo-demo terus tapi ga ngasih solusi yang baik untuk pemerintah.
ada juga pertanyaan Annisa yang nempel banget di ingatan saya 'kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalau Allah cuma pengen disembah dengan satu cara?' dan dijawab sama Cina 'makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu'.
pengambilan judul juga dirasa pas banget. CIN dimaksudkan CINA, A dimaksudkan Annisa dan ada (T) di tengah tengah mereka dimaksudkan untuk the most unpredictable character. (T) loves Cina and Annisa, but Cina and Annisa can't love each other because the called (T) in different names.
tapi, ada kurangnya sih. backsound yang berlebihan harus beradu dengan suara Annisa yang lembuuuuuut banget terasa ganggu. kadang kita malah baca english subtitle nya aja daripada harus mendengar dialog mereka karena memang terdengar kurang jelas.
film ini seharusnya membuka pandangan kita, kalau Indonesia terdiri dari lebih dari 1 agama. nah, disitu kita dituntut untuk saling menghargai. kalau ga salah ingat, di film ini juga sempat ada suara dari masjid tentang surat Al-Baqarah (kalo salah maaaf banget, kalau ga salah ingat sih gitu) yang intinya, apapun agamanya kalau kita berbuat baik, Tuhan juga ngasih pahala. dari situ kita harus berpikir juga tentang tolerasi antar umat beragama.
adanya kata 'amin?' sebagai penutupan film ini ditunjukkan agar penonton mengambil kesimpulan masing-masing. film ini bukan untuk mengkampanyekan cinta beda agama. Cin(t)a cuma ungkapan dari para crew film ini, dan semua kesimpulan diserahkan untuk yang nonton. dengan ending yang adapun, ga bikin saya berpikir kalau pacaran beda agama tuh disahkan oleh film ini.
kalau saya boleh menarik kesimpulan yang pastinya subjektif, dari film ini saya dapet, Tuhan ngasih kita cinta untuk bisa saling menghargai dan bertoleransi dengan perbedaan yang ada. bukan ngasih cinta untuk menyamakan perbedaan-perbedaan yang ada.
yang pasti menurut saya, kadang ga semua pertanyaan bisa dijelaskan dengan logika. makanya Tuhan ngasih kita hati, perasaan, dan cinta. dan tetap menyerahkan semuanya sama Tuhan, karena GOD is a DIRECTOR.
good luck for u, guys. great movie, i think. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

My Friday

hari kedua di Jatinangor. hari ini saya sama Sherly nonton di Jatos. pengen nonton Ketika Cinta Bertasbih, tapi udah sold out sampe pertunjukan paling malam. lalu akhirnya kita nonton Virgin 2: Bukan Film Porno.
filmnya? uhm, aneh! ga tau kenapa yah, kok bilangnya aneh. soalnya, menurut saya yang ga ngerti film nih ya, kayaknya yang megang kamera sambil mabok deh. soalnya, potongan-potongan gambarnya kayaknya kasar banget, tiba-tiba dari kiri, tiba-tiba dari kanan. huaaa, pusing, kawan. mungkin kalo kata yang ngerti itu bagus kali yah, tapi buat saya, itu memusingkaaaaan.
terus, dari jalan cerita juga motongnya kasar juga. soalnya, tiba tiba cerita si ini, terus bleees cerita yang lain. huaaa, memusingkan lagi kawaaan.
yang satu lagi itu yah, musiknya, kawan. seperti film horor. mungkin biar kesannya misterius, tapi menurut saya tuh ya itu berlebihan. mungkin, karena rumah produksi nya keseringan bikin film horor kali yah? who knows deh.

by the way, tadi saya nyoba sign up di polyvore. and i love it! check my polyvore

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

jatinangor oh jatinangor

akhirnya, saya pulang juga ke jatinangor. sayangnya, acara kampus ke lembang diundur tanggal 28. dan liburan ke pangandaran juga diundur minggu depan. :(
by the way, sepulang ke jatinangor, saya dikasih kabar mengejutkan. dua orang teman kampus saya jadi korban geng motor. ga tau juga sih, geng motor beneran atau gimana, tapi kejadiannya orangnya naik motor. cerita lengkapnya kurang tau, soalnya baru denger-denger aja. kejadiannya subuh, katanya dua orang teman saya ini mau cari makan buat sahur, dan dirampok deh sama sekomplotan orang bermotor. yang satu katanya mukanya bengkak-bengkak, yang satu lagi katanya dipukulin pake gagak golok, dan lehernya kesayat juga. huaaaa. jatinangor kok jadi menyeramkan gini.
yap, semoga dua orang teman saya ini segera membaik deh. :) dan ga ada lagi kejadian kayak gini dialami sama yang lain yang tinggal di jatinangor. amiiiin.

oh ya, kemarin sehari sebelum pulang, Sherly ke Bogor. kita belanja buat butik dan nonton di Elos 21. hehe. kebetulan kemarin sih nonton Drag Me To Hell.

ceritanya tentang cewek yang kerjanya ngasih pinjaman gitu. terus, ada ibu-ibu yang minta diperpanjang tapi ga bisa lagi ternyata. dan karena kesal, ibu-ibu itu ngutuk si cewek bank. huaaa. tragis. padahal kalo dipikir-pikir bukan salah cewek itu. namanya pekerjaan. by the way. filmnya ga menyeramkan sih, tapi menjijikan. dan saya terbayang-bayang sama entah ulat, entah belatung yang ada di film itu. hueeeks. masih terbayang.. jijiknya. yah, kalo ada yang tertarik, silahkan menonton. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

HE'S HOT

i've been watching TWILIGHT. with my bf, of course, last thursday.
nyempetin banget kamis ke Jakarta, naik kereta demi nonton TWILIGHT. baca bukunya emang seru sih. saya punya ekspektasi tinggi sama EDWARD CULLEN, the vampire, yang jatuh cinta sama ISABELLA SWAN, karena wangi darah manusia nya.
dan setelah saya nonton, ada satu kesimpulan, EDWARD CULLEN IS SO HOOTTT! oh my gosh, he's the most perfect vampire ever. oh gossshhh, mau dehhh digigitttt. ahahaahha


sumpaaah, mau banget gue digigit. ahahhahaha

tatapan matanya ituuu lhoooo, menghipnotiiisss

sepanjag perjalanan pulang, saya hanya berkata, "yek, edward cullen really hot!" hahaha, dan dia marah sekali setiap saya bilang itu ;P

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

LASKAR PELANGI


Sebenarnya, sudah lama saya tertarik untuk membaca novel best seller mahakarya Andrea Hirata, tapi apa daya, susah sekali memantapkan niat itu. Hehe. Sampai akhirnya, saya tau Mira Lesmana akan memvisualisasikan novel ini. Wuihh, yippiesss!!! Saya tidak perlu repot-repot baca novelnya!! Padahal, sebenarnya saya adalah orang yang suka baca, malah dulu saya selalu lebih puas baca novel daripada liat filmnya. Lebih puas bikin visualisasi sendiri, begitu pikir saya. Tapi, entah mengapa memang semenjak kuliah nafsu membaca saya menurun drastis. Jadi, saya sangat menunggu nunggu film Laskar Pelangi.
Ketika saya sudah tau Laskar Pelangi sudah tayang di Botani XXI (cieee, Bogor punya XXI, booo), saya segera mengirim pesan singkat ke Papip-my lovely dad-yang kebetulan sabtu itu bertugas ketemu klien di lapangan golf. 'Pip, Laskar Pelangi yuk malem mingguan' begitu sms saya. Ternyata Papip setuju untuk menghabiskan malam minggu di bioskop. Jadilah, sore itu saya berangkat bersama Papip, Mamim, dek Ival dan dek Digdig ke Botani.
Jam tujuh teng, kita masuk ke studio. Selama pemutaran film, saya sangat menikmati suguhan Riri Riza ini. Mungkin, karena saya tidak baca bukunya, jadi saya merasa film ini bagus sekali. Sangat terlihat semangat para Laskar Pelangi ini. Dan sejujurnya, agak membuat saya malu. Hehe. Saya yang dicekoki berbagai fasilitas kok keinginan sekolahnya ya gitu gitu aja, sedangkan Lintang, yang harus melalui berbagai rintangan, masih saja sulit untuk mendapat pendidikan yang mungkin hanya sekedar saja.
Ya, menurut saya film ini sangat kental dengan mimpi dan bagaimana mimpi itu diwujudkan. Tapi, ternyata tidak hanya itu. Mungkin karena faktor kedewasaan juga, Papip saya punya filosofinya yang lebih dalam (cieeee). Memang sudah menjadi hobi saya untuk menggali pemikiran ayah saya, entah mengapa mendengar perkataan Papip tuh seru sekali.
Diawali dengan keinginan saya untuk kursus jahit tapi tidak tau mengapa, si Papip tiba tiba nyambung ke Laskar Pelangi. Dan akhirnya kita asik bahas tentang Laskar Pelangi the movie ini. Menurut Papip, ada beberapa filosofi dari film ini, yang pertama adalah tentang mimpi, mimpi bisa mendorong seseorang begitu ingin mewujudkannya. Bagaimana bu Mus sangat ingin memberikan pendidikan bagi mereka yang tidak mampu, bagaimana Ikal dan teman temannya begitu ingin belajar dan bersekolah.
Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak hanya itu. Film ini juga memberi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, keterbatasan malah menimbulkan kreativitas lebih. Bagaimana Lintang yang menyempatkan diri membaca koran sampai bagaimana Mahar bisa memberikan pertunjukan yang tidak semegah drum band, tapi ternyata bisa mengalahkan dan bisa menjadi pemenang dalam karnaval. Anak-anak ini tidak memiliki ruang yang luas, tidak memiliki buku, atau sumber informasi yang anak-anak lain miliki. Tapi, Mahar bisa sangat kreatif membuat tarian, dari apa yang ia dengar dari radio tape bututnya, dan bahkan dari alam yang mengelilinginya. Keterbatasan yang mereka miliki ternyata dapat mendesak mereka untuk mewujudkan mimpi mereka dengan kreativitas.
Tidak hanya itu, di saat anak anak lain memilih kalkulator dalam menghitung, ternyata laskar pelangi ini 'hanya' dibekali seikat lidi saja untuk menghitung. But fyi, i used this! Waktu saya mulai belajar menghitung, saya juga dibekali seikat lidi oleh Papip dan Mamim saya. Saya agak miris makanya, melihat anak sekarang yang terkontaminasi alat-alat elektronik yang membuat mereka merasa masalah dapat denga mudah diselesaikan.
Back to the topic, ternyata Riri Riza juga memberikan gambaran bahwa pasti ada sesuatu yang harus kita bayar untuk mendapatkan sesuatu. Mungkin orang yang lebih beruntung itu mengorbankan uang, tapi anak Laskar Pelangi ini tidak diberikan cuma-cuma untuk meraih kemenangan mereka. Kemenangan mereka dibayar dengan tubuh gatal-gatal. Ya, sesuatu tidak semudah itu kita raih, tidak hanya minta dengan ibu peri, lalu viola, dapat terwujud. Ketika kita mendapat sesuatu, kita harus merelakan sesuatu.
Point berikutnya adalah bagaimana Lintang juga dapat bertanggung jawab. Ingat ketika Bu Mus tidak mengajar berhari-hari, ketika anak lain berpikir buat apa mereka ke sekolah toh Bu Mus saja tidak ada, ingat apa yang dikatakan Lintang? Dia bilang, ayahnya pergi melaut untuk menyekolahkannya, kalau ayahnya mau pun, mungkin ia sudah dibawa ikut melaut, tapi nyatanya ayahnya ingin Lintang menikmati pendidikan, agar hidupnya pun lebih layak. Lintang melihat bahwa orang lain mungkin sudah merelakan sesuatu untuknya, ayahnya sudah merelakannya untuk tidak melaut, Lintang 'hanya' diberi tugas untuk sekolah, makanya dengan adanya hal itu menimbulkan sikap bertanggung jawab nya Lintang atas pengorbanan ayahnya.
Bukan hanya itu saja sikap bertanggung jawab Lintang. Ketika ayahnya hilang, Lintang pun sangat bertanggung jawab terhadap para adiknya. Bukan tidak mungkin Lintang tetap pergi ke sekolah, tapi ia merasa ia bertanggung jawab atas adiknya yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.
Lalu pemikiran Bu Mus, bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, setiap anak berhak menikmati pendidikan.
Terakhir Papip mengatakan film ini mengambarkan bahwa tidak semua yang kita punya adalah milik. Dapat dilihat bahwa, para petinggi di pabrik timah itu pun tidak bisa selalu di atas, roda kehidupan berjalan toh? Ternyata ada saatnya timah itu pun harganya anjlok, timah sudah tidak digemari, dan membuat tidak ada lagi garis pembatas di dalam masyarakat. Ya, roda kehidupan berputar. Semua yang kita punya bukan milik. Semua yang kita punya adalah titipan. Ketika ia hilang, kita tidak boleh protes toh?
Mungkin, banyak hal lagi yang dapat digali dari film ini. Tetapi yang pasti, film ini harusnya sangat menginspirasi. Khususnya, buat saya yang masih pelajar. Harusnya, saya bisa lebih bersyukur, dan tidak menyianyiakan kesempatan saya untuk dapat menikmati bangku kuliah. Huff, semoga saja saya bisa lebih giat lagi dan lagi!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments